Laman

Blog ini dibuat untuk kepentingan tugas perkuliahan Relasi Publik Maya, Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Kristen Petra

Minggu, 20 Mei 2012

Pulau Marsegu



Pulau Marsegu terletak di bagian barat Pulau Seram (Nusa Ina / Pulau Ibu) yang terkenal memiliki Taman Nasional Manusela. Secara Administratif pulau Marsegu termasuk dalam Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku. Pulau ini diberikan nama oleh masyarakat sebagai “Pulau Marsegu” karena mempunyai satwa Kelelawar yang begitu banyak. Kata Marsegu berasal dari bahasa daerah yang berarti Kelelawar. Dalam pikiran pasti terlintas seperti tokoh menyeramkan yaitu “Drakula” penghisap darah, manusia yang menjelma menjadi kelelawar. Tapi pulau ini tidak menyeramkan bahkan berbagai keindahan dapat ditemui disana, sebagai tempat rekreasi dan tempat mengembangkan ilmu pengetahuan tidak perlu diragukan lagi.

Pteropus vampirus

 
Selain Kelelawar dapat ditemui juga satwa-satwa yang dilindungi seperti Burung Gosong Megaphodius reinwardtii (Maleo) dan Kepiting Kelapa (Birgus latro) atau yang bahasa daerahnya disebut "kepiting kenari". Masih banyak satwa burung lain yang menjadikan pulau ini sebagai habitat makan, bermain dan tidur.

Birgus latro


Pulau Marsegu atau pulau kelelawar merupakan Kawasan hutan lindung yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 10327/Kpts-II/2002, tanggal 30 Desember 2002, luasnya 240,20 Ha. Wilayah lautnya merupakan Taman Wisata Alam Laut seluas 10.000 Ha ditetapkan dengan SK Menhutbun No. 114/Kpts-II/1999, tanggal 05 Maret 1999. Potensi sumberdaya alam laut yang cukup besar, terumbu karang beraneka warna yang dapat disaksikan keindahannya. Berbagai corak kehidupan laut dengan ikan karang yang beraneka ragam bentuk dan ukuran.

Terumbu Karang

Untuk yang gemar makanan laut (seafood) dapat menikmati sepuasnya di pulau ini. Mau memancing sendiri atau dapat juga membeli dari masyarakat di sekitar pulau ini yang penghidupannya bersumber dari laut.

Ikan Karang

Di Pulau Marsegu dapat ditemukan berbagai komunitas hutan diantaranya: Hutan Sekunder yang merupakan hasil tindakan dari masyarakat sebagai lahan untuk berkebun. Komunitas hutan sekunder ini merupakan hutan yang tumbuh di atas batu karang, secara bertahap telah terjadi proses pelapukan. Dahulunya daerah ini merupakan Hutan Primer dengan diameter pohon lebih dari 100 cm, tetapi telah ditebang dan dijadikan lahan untuk menanam umbi-umbian sebagai bahan makanan.

Hutan Sekunder

Setengah dari Pulau ini merupakan daerah hutan mangrove dengan jenis-jenis mangrove yang juga terdapat pada daerah lain, seperti Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Brugueira gymnorrhiza, Brugueira sexangula, Ceriops tagal, Xylocarpus mollucensis, Xylocarpus granatum, Heritiera littoralis, Lumnitzera littorea, Aegiceras corniculatum, Excoecaria agallocha, Pemphis acidula dan Scyphiphora hydrophyllacea.

Zone terluar dari daerah mangrove adalah Rhizophora mucronata kemudian bercampur dengan Rhizophora apiculata dan dibagian tengah adalah Brugueira gymnorrhiza, Brugueira sexangula, Ceriops tagal, Xylocarpus mollucensis dan Xylocarpus granatum.

Di bagian timur dari Pulau Marsegu terdapat vegetasi hutan pantai yang mempunyai pantai pasir putih sepanjang 1600 meter. Jenis vegetasi yang terdapat pada zone ini adalah Cordia subcordata, Pongamia pinnata, Terminalia catappa dan Baringtonia asiatica. Di bagian utara pantai pasir putih terdapat zone Ipomea pescaprae yang didominasi oleh rumput angin (Spinifex littoreus) dan Katang-katang (Ipomea pescaprae). Lokasi ini merupakan tempat wisata yang menarik untuk menikmati pemandangan laut serta menghirup udara pantai yang segar.

Pantai Pasir Putih

Untuk yang mau berkemah atau tinggal beberapa hari di pulau ini, tersedia 2 (dua) buah sumur sebagai sumber air tawar yang biasanya juga dipergunakan oleh masyarakat sekitar untuk air minum, mandi dan cuci.

Aksesibilitas ke Pulau Marsegu dari kota Ambon sebagai Ibu Kota provinsi dapat ditempuh melalui rute:

·         Ambon – Hunimua. (Jalur darat)
·         Hunimua – Waipirit (Pulau Seram) menggunakan Ferry (1,5 jam)
·         Waipirit – Piru – Pelita Jaya. (Jalur darat ± 56 km)
Pelita Jaya – Pulau Marsegu. (Jalur laut ± 5 km )


dikutip dari :http://liburan.info/content/view/738/43/lang,indonesian/

Jumat, 18 Mei 2012

TUGU AMBROINA



Pulau Seram dan beberapa pulau kecil disekitarnya  tidak hanya terkenal   dengan sumber  daya alamnya, namun juga menyimpan banyak situs sejarah. Tetapi sebagian besar  situs sejarah itu belum sepenuhnya  dimaksimalkan pengelolaanya untuk menjadi tempat-tempat wisata potensial.
Seperti Tugu Amroina di Dusun Tiang Bendera, Kecamatan Waisala, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) yang merupakan salah situs sejarah peninggalan Belanda sekira 300 tahun lalu, belum mendapat  perhatian Pemerintah atau stakeholder di Maluku maupun SBB sendiri.
Tugu Ambroina menurut cerita masyarakat setempat merupakan salah satu peninggalan penjajah Belanda yang ada di Pulau Kelang. Pulau Kelang berada di ujung barat  Pulau Seram,  tepatnya satu gugus dengan Pulau Manipa, Pulau Babi, dan Pulau Buano.
Tugu Ambroina memiliki tinggi sekira 4 meter, berbentuk segi empat. Lebar masing-masing sisinya sekira 1,2 meter.  Di salah satu sisinya tertulis nama Ambroina VOC.   Disamping tulisan tersebut juga tertulis angka 1792 yang diperkirakan merupakan tahun selesai pembangunan tugu tersebut.
Description: http://info.kapetseram.com/wp-content/uploads/2011/08/tugu-ambroina.jpg
Tugu Ambroina berdiri kokoh di atas sebuah batu besar yang  berdiameter sekira 60-70 meter dan tinggi 20-30 meter dari atas permukaan laut. Posisi batu tersebut  di tepi pantai atau tepatnya berada di pantai Dusun Tiang Bendera. Sebuah dusun yang   berpenduduk sekitar 3.000 jiwa.
Menurut cerita yang ada, Tugu Ambroina menjadi bukti penguasaan penjajah Belanda dengan VOC-nya di tanah penghasil rempah-rempah ini. Namun versi lain        menyebutkan bahwa tugu tersebut dibangun sebagai pertanda kemenangan Belanda setelah menaklukan negeri-negeri yang ada di Hua Mual.
Description: http://info.kapetseram.com/wp-content/uploads/2011/08/tugu-ambroina1.jpg
Selain itu juga disebutkan bahwa tugu tersebut dibangun Belanda sebagai alat penunjuk atas penyimpanan harta karung di Pulau Kelang.  Namun semua cerita tersebut belum dapat dibuktikan atau terpecahkan hingga era sekarang.
Namun terlepas dari semua cerita sejarah dan mitos soal keberadaan tugu tersebut,  Tugu Ambroina memiliki nilai sejarah dan berpotensi menjadi tempat wisata sejarah di SBB.
Bagi mereka yang ingin melihat secara dekat tugu tersebut dapat menjangkaunya dengan transportasi laut melalui beberapa jalur atau titik. Dari Kota Ambon dapat melalui jalur speed boat di Desa Hila, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah. Jarak tempuh sekitar 2,5-3 jam  dengan biaya tiket per orang Rp. 100 ribu.  Atau  juga  melalui  transportasi kapal motor  tradisional di samping Pasar Arumbai, Kota  Ambon dengan tiket Rp. 50 ribu.
Sedangkan dari Kota Piru harus melewati perjalanan darat ke Desa waisala, selanjutnya menyewa kendaraan laut masyarakat setempat yang nilai sewanya berkisar antara Rp. 200.000 hingga Rp. 500.000. Jarak tempuhnya sekira 1,5-2 jam dengan speed boat. (HW)


dikutip dari : http://info.kapetseram.com/?p=160

Rabu, 16 Mei 2012

Papeda, Makanan Khas Maluku


Sagu (Metroxylon sp) habitatnya di daerah rawa, hasil hutan non kayu yang sejak dari dulu sudah dimanfaatkan sebagai sumber makanan. Di Maluku, Sagu tumbuh dengan sendirinya hutan-hutan rawa, pada daerah dataran rendah tumbuh di belakang hutan mangrove.
Menurut Flach and Schuiling (1991) kandungan Nutrisi (g) yang terdapat pada batang sagu adalah N = 590, P = 170, K = 1700, Ca = 860 dan Mg = 350. Pada saat pengolahan di lapangan nutrisi ini banyak hilang dan kembali ke tanah tempat tumbuhnya.
Sebagai makanan pokok orang Maluku, sagu dijadikan “papeda” untuk dimakan dengan “ikan kuah”. Kalo menghidangkan papeda tanpa “ikan kuah” rasanya tidak lengkap.
papeda fish
Pada saat ini daerah perkotaan di Maluku orang sudah lebih banyak mengkonsumsi beras sebagai bahan makanan sehari-hari. Sagu yang dibuat “papeda” sudah jarang ditemui hanya pada saat-saat tertentu atau acara khusus saja “Papeda” disajikan bersama “Ikan kuah kuning”. Tidak semua rumah makan di kota Ambon menyediakan menu ini hanya pada rumah makan tertentu dan tidak banyak tersedia.
bale papeda
Untuk mengambil papeda dari tempatnya “bale papeda” menggunakan “gata-gata” (terbuat dari bamboo) agar bisa disantap dan ada orang tertentu yang akan menaruh / bale papeda ke piring yang sudah di ada kuah ikannya.
papeda kuah ikan
Papeda dimakan tidak memakai sendok tetapi disantap langsung dari piring, bagi yang belum terbiasa, silahkan memakai sendok untuk memasukannya ke dalam mulut. Agar mulut tidak belepotan.
makanan ambon
Selain dengan “kuah ikan”, ada menu lain juga yang dihidangkan, yang akrab dengan sebutan “makanan ambon”. Yaitu : Kasbi (singkong) Rebus, Acar, Sayur Jantung Pisang, Sayur Daun Kasbi, Ikan Bakar dan Colo-colo.
Makanan-makanan ini tidak mengandung kolesterol, jadi sehat untuk dikonsumsi dengan kebutuhan serat yang berimbang. Untuk yang sedang diet disarankan untuk mengkonsumsi makanan seperti ini agar tetap lansing. Apabila ditambah dengan berolahraga yang teratur maka hidup menjadi sehat.
Sebagai panganan, sagu diolah kemudian dibakar dijadikan makanan “Sagu gula”, untuk dihidangkan bersama Kopi atau “Teh gula” (teh manis), saat pagi hari atau sore hari.
Gambar-gambar ini diambil pada saat Acara pelatihan dan penanaman MangroveKewang Haruku di Desa Haruku, Pulau Haruku, Provinsi Maluku.


Selasa, 15 Mei 2012

Bambu Gila




MENDENGAR 'Bambu Gila' mungkin pikiran Anda akan teralih kepada sebuah benda bernama bambu. Tidak sepenuhnya salah, karena tarian berasal dari Maluku ini juga menggunakan medium bambu.

Bambu Gila merupakansebuah tarian yang mengandung unsur mistis, mantan, dan kemenyan. Sebanyak tujuh pria kuat bertarung melawan sebatang bambu dengan panjang sekitar 2,5 meter dan berdiameter 8 cm.

Ini merupakan pemandangan menarik, saat menyaksikan ini Anda akan merasakan pengalaman supranatural yang mungkin jarang atau belum pernah Anda rasakan sebelumnya.

Tarian ini juga dikenal dengan nama Buluh (bambu) Gila atau Bara Suwen. Pertunjukan ini bisa ditemui di dua desa yaitu Desa Liang, kecamatan Salahatu, dan Desa Mamala, kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Di Provinsi Maluku Utara, atraksi yang bernuansa mistis ini dapat dijumpai di beberapa daerah di kota Ternate dan sekitarnya.

Untuk memulai pertunjukan ini sang pawang membakar kemenyan di dalam tempurung kelapa sambil membaca mantra dalam ‘bahasa tanah’ yang merupakan salah satu bahasa tradisional Maluku. Kemudian asap kemenyan dihembuskan pada batang bambu yang akan digunakan. Jika menggunakan jahe maka itu dikunyah oleh pawang sambil membacakan mantra lalu disemburkan ke bambu.

Fungsi kemenyan atau jahe ini untuk memanggil roh para leluhur sehingga memberikan kekuatan mistis kepada bambu tersebut. Roh-roh inilah yang membuat batang bambu seakan-akan menggila atau terguncang-guncang dan semakin lama semakin kencang serta sulit untuk dikendalikan.

Dalam berbagai atraksi yang melibatkan hawa mistis, manusialah yang dirasuki oleh roh mistis tetapi dalam tarian ini roh mistis yang dipanggil dialihkan ke dalam bambu. Ketika pawang membacakan mantra berulang-ulang, si pawang lantas berteriak “gila, gila, gila!” Atraksi bambu gila pun dimulai. Alunan musik mulai dimainkan ketika tujuh pria yang memegang bambu mulai merasakan guncangan bambu gila.

Bambu terlihat bergerak sendiri ketika pawang menghembuskan asap dan menyemburkan jahe ke batang bambu. Para pria yang memeluk bambu mulai mengeluarkan tenaga mereka untuk mengendalikan kekuatan guncangan bambu. Ketika irama musik mulai dipercepat, bambu bertambah berat dan menari dengan kekuatan yang ada di dalamnya. Atraksi bambu gila berakhir dengan jatuh pingsannya para pemain di arena pertunjukan. Hal yang unik dari pertunjukan ini, kekuatan mistis bambu gila tidak akan hilang begitu saja sebelum diberi makan api melalui kertas yang dibakar.

Bambu yang digunakan merupakan bambu lokal. Namun, proses memilih dan memotong bambu tidak sembarangan, karena dibutuhkan perlakuan khusus. Pawang terlebih dahulu meminta izin dari roh yang menghuni hutan bambu tersebut.

Bambu kemudian dipotong dengan melakukan adat tradisional. Bambu dibersihkan dan dicuci dengan minyak kelapa kemudian dihiasi dengan kain pada setiap ujungnya. Dahulu, bambu langsung diambil dari Gunung Gamalama, gunung api di Ternate, Maluku Utara. Saat ini, tarian bambu gila dipelajari dan dimainkan di luar pulau Maluku.

Tradisi tari bambu gila diyakini sudah lama dimulai sebelum masa Islam dan Kristen masuk ke kepulauan ini. Saat ini tari berbau mistis ini hanya dipentaskan di beberapa desa kecil. Melihat tarian ini merupakan pengalaman spiritual yang unik. Lantunan mantra dari pawang dan tabuhan tifa menciptakan pertunjukan yang tidak bisa Anda temukan ditempat lain di dunia. Apalagi jika Anda ikut menari dengan bambu gila, membuat pengalaman ini sulit untuk Anda lupakan.
(uky)

Sabtu, 12 Mei 2012

Pulau Karang Bais


Description: http://www.serambagiantimurkab.go.id/imgpopup.asp?id=96
Aktifitas wisata di Kota Minyak Bula mencapai klimaksnya manakala wisatawan mengunjungi Pulau Karang Bais. Pulau ini oleh masyarakat Bula disebut sebagai pulau sejuta pesona. Pulau tanpa pohon dan penghuni. Pesonanya terletak pada keindahan potensi bawah lautnya, mulai dari hamparan beragam bentuk terumbu karang, ratusan jenis ikan berbagai bentuk, ukuran dan warna. Pulau Karang Bais, dapat dijangkau dengan menggunakan Speed Boat dari pantai Bula hanya dalam tempo ± 30 menit.

Rabu, 09 Mei 2012

Danau Sole







Tari Orlapei




Tarian ini adalah tarian penyambutan para tamu kehormatan pada acara-acara Negeri/Desa di Maluku Tengah. Pada umumnya menggambarkan suasana hati yang gembira dari seluruh masyarakat terhadap kedatangan tamu kehormatan di Negeri/Desa-nya, dan menjadi ungkapan Selamat Datang. Kombinasi pola lantai dan gerak serta rithem musik lebih memperkuat ungkapan betapa seluruh masyarakat Negeri/Desa setempat merasa sangat senang dengan hadirnya tamu kehormatan di Negeri/Desa mereka.Tarian ini menggunakan properti “gaba-gaba” (bagian tangkai dari pohon sagu/rumbia sebagai makanan khas rakyat Maluku, dan dalam dialek Maluku disebut “jaga sagu”) Diiringi alat musik tradisional rakyat Maluku, yaitu : Tifa, Suling Bambu, Ukulele, dan Gitar.

Kombinasi pola lantai, gerak, ritme musik, memperkuat ungkapan betapa seluruh masyarakat setempat merasa senang dengan hadirnya tamu kehormatan. Tarian yang dimainkan begitu serasi, energik, dan dinamis, memancarkan aura persahabatan, perdamaian, dan kebersamaan. Jadi, melihat tarian mereka adalah juga menengok jiwa mereka yang tulus


dikutip dari :
http://www.indonesia.go.id/in/provinsi-maluku/sosial-budaya/10698-tari-orlapei.html