Halaman

Blog ini dibuat untuk kepentingan tugas perkuliahan Relasi Publik Maya, Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Kristen Petra

Rabu, 09 Mei 2012

Danau Sole



Description: http://www.serambagiantimurkab.go.id/imgpopup.asp?id=95
Danau Sole berada di Desa Amarsekaru, Kecamatan Pulau Gorom. Objek wisata Danau Sole ini sesungguhnya sudah dikenal di seluruh dunia. Wisatawan mancanegara sangat sering berkunjung ke danau air laut ini melalui perjalanan panjang dari negara mereka menggunakan kapal pesiar (CruiseShip).

Wisatawan mancanegara kerapkali menyebut Danau Sole sebagai salah satu danau air laut terunik dan sangat eksotik di dunia. Airnya jernih dan tenang, sehingga sangat cocok untuk renang, mancing, maupun untuk menikmati pemandangan bawah laut (snorkeling & daving). Ini karena Danau Sole merupakan tempat berkumpulnya beragam biota laut, berbagai jenis terumbu karang yang indah dan ratusan jenis ikan. Danau Sole yang eksotik, ditunjang pesonanya juga dengan lingkungan sekitar yang asri dan keramahtamahan penduduk Amarsekaru.

Bagi wisatawan yang telah tiba di Kota Ambon, perjalanan ke Danau Sole di Amarsekaru menggunakan kapal laut Manusela tujuan kota kecamatan Seram Timur, Geser. Bila sudah tiba di Geser, wisatawan melanjutkan perjalanan menggunakan Speed Boot atau Long Boat menuju Amarsekaru, Kecamatan Gorom. Harga tiket kapal Manusela Ambon – Geser Rp. 100.000.-. Sedangkan biaya perjalan Geser – Amarsekaru Rp. 300.000.- bila menumpangi Long Boat dan Rp. 500.000.- bila menumpangi speed Boat. Kalau salah satu diantara kedua jenis ankutan ini disewa, harga sewanya ditentukan berdasarkan kesepakatan melalui negosiasi antara pemilik angkutan dan pemakai

dikutip dari :

Senin, 07 Mei 2012

Adat Pukari






Upacara Adat Pukari Berkati Pendaki Binaiya


Upacara adat merupakan salah satu daya pikat untuk pendaki Binaiya selain keindahan alam bumi rempah-rempah ini. Selain untuk melestarikan budaya Indonesia, ternyata upacara adat mempunyai arti tersendiri bagi warga Pulau Seram.
Desa Selumena adalah desa kecil yang berada di antara Desa Maraina dan Desa Kanikeh yang ditempuh dalam 5 hari perjalanan dari Desa Mosso. Di desa itu kita bisa menyaksikan upacara adat Pukari. Hampir sama dengan upacara adat di Desa Huwalesana, hanya saja Upacara adat Pukari melibatkan semua warga Desa Selumena dan juga ada tarian adatnya. 
Upacara adat Pukari terbilang upacara adat yang sederhana di banding dengan upacara adat di tempat lain. Properti yang di gunakan pun bukan barang-barang yang mewah, hanya kapur, sirih, kinang, dan Tifa. Jika semua properti itu sudah siap, maka upacara adat Pukari pun akan di mulai dengan di tandai suara tabuhan Tifa oleh Bapa Raja Tanah.  Semua peserta upacara akan duduk melingkar di luar tikar yang di tengahnya di letakkan kapur, sirih dan pinang dalam besek bambu. Sambil menabuh Tifa, alat musik tradisional Maluku yang terbuat dari batang pohon yang di kosongi bagian dalamnya dan di tutup dengan kulit rusa di salah satu ujungnya, Bapa raja tanah dan warga akan melantunkan nyanyian yang sarat akan doa. 
Setelah beberapa saat, upacara pun akan di lanjutkan dengan tarian adat yang juga merupakan rangkaian dari Pukari. Gerakan dari tarian ini cukup mudah untuk di ikuti bagi kita yang pemula. Hanya maju, mundur dan ke samping searah putaran jam. jangan lupa membuat lingkaran dan bergandeng tangan dulu dengan kawan samping kanan dan kiri kita sebelum tarian di mulai. Meskipun sederhana, Pukari sangat meriah. Suasana tarian akan semakin riuh saat salah satu penari berteriak melengking "EEEHHHHHAAAA". Teriakan itu rupanya dipercaya warga sebagai pembangkit alam bawah sadar penari agar semakin bersemangat. 
Upacara adat Pukari tidak berhenti pada nyanyian dan tarian saja. Masih ada 1 lagi ritual yang harus di ikuti oleh semua peserta upacara adat ini. Makan sirih dan pinang. Ya, meskipun rasanya sepat dan kurang bersahabat dengan lidah kita, sirih dan pinang harus tetap kita santap. Coba saja meskipun hanya sedikit, itu yang akan warga Selumena bilang saat mengetahui tamunya kesusahan menelan Sirih dan Pinang. 
Itulah Upacara adat Pukari yang di gunakan oleh warga Selumena untuk menyambut tamu, khususnya tamu yang ingin mendaki Gunung Binaiya. Warga percaya pendaki akan di berkati dan di lindungi oleh pencipta alam dari hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi, di luar kepercayaan itu, upacara adat ini lebih sebagai media saya untuk semakin mengenal dan mempelajari salah satu budaya Indonesia yang benar-benar kaya ini. 
Aku Cinta Selumena, Aku Cinta Indonesia!

Dikutip dari :

Jumat, 04 Mei 2012

Desa Kanikeh



Desa Kenikeh terletak di Pulau Seram yang berada di bawah kaki gunung Binaiya, desa ini merupakan desa terakhir tempat persinggahan jika ingin mendaki ke gunung binaiya, di desa ini dapat dilihat gunung bianaiya dengan jelas serta pemandangan yang memanjakan mata dengan struktur topografi desa yang sangat indah serta pekarangan rumah-rumah yang ditumbuhi rumput hias beserta dengan aliran sungai yang mengalir jernih. Bentuk rumah yang sangat sederhana namum memiliki keunikan tersendiri serta terdapat beragam nilai di dalamnya. Ditambah dengan keramah tamahan masyarakat kenikeh yang membuat keakraban dapat terjalin dengan baik
 Sebelum mendaki gunung diwajibkan untuk melakukan upacara adat terlebih dahulu, masyarakat kenikeh sangat menjaga warisan leluhur terdahulu sehingga kearifal lokal yang ada masi terjaga. Pada umumnya masyarakat kenikeh telah memeluk agama Kristen protestan namun mereka masih tetap mempercayai hal-hal takhayul atau yang bersifat gaib.  Begitu banyak acara adat yang ada namun acara tersebut dilakukan pada hari tertentu saja misalanya pada akhir tahun dimana upacara adat ini sangat meriah dan mengundang tamu dari luar, tentunya upacara adat yang dilakukan telah melebur dengan agama yang mereka anut saat ini, tapi tetap kemurniannya masi terjaga.
Mata pencaharian masyarakat kenikeh yaitu berburu, bercocok tanam dan bertani. Hewan yang diburu adalah rusa, ketika mendaki gunung binaiya akan banyak kita jumpai kotoran rusa, hal ini menandai bahwa peyebaran rusa sangat banyak di daerah ini sehingga memudahkan para warga untuk berburu. Biasanya mereka hanya menggunakan jerat atau perangkap yang dipasang di hutan untuk menangkap rusa, karena medan yang begitu terjal da terbuka sehingga agak sulit untuk menggunakan tombak, walaupun demikian ada sebagian kecil juga yang menggunakan tombak tapi di bawah daerah yang datar.  Jika ada buruan yang didapat akan dibagi rata dengan pemburu lainnya sehingga dalam membawanya ke desa menjadi enteng. Dari hasil buruan ini mereka membuat dende yang kemudian mereka bawa ke pantai untuk dijual. Dalam proses pembuatandende ini hampir sama dengan pembuatan ikan asing, daging yang dikeringkan kemudian di beri garam. Hasil buruan inilah yang menjadi penghasilan utama masyarakat kenikeh ini. Dalam bercocok tanam hasilnya hanya untuk kebutuhan pagan sehari-hari, umumnya mereka menanam ubi kayu, patatas (ubi jalar), sagu dll. Dalam hal bertani sebagian masyarakat turun ke gunung dan bertani namun jaraknya sangat jauh dari desa, sehingga hanya sebagian kecil yang menjadi petani.
Di desa kenikeh telah berdiri bagunan  sekolah dasar yang telah ada sejak tahun 1961 menurut Estepanus Hilimau yang merupakan kepalah Sekolah di desa ini. YPPK Kenikeh adalah nama sekolah di desa ini, jumlah guru yang mengajar berjumlah empat orang saja dengan jumlah murid yang sangat sedikit, tahun 2011 ini saja hanya empat orang murid saja yang akan mengikuti Ujian Nasional nantinya, menurut Andi Masauna salah seorang guru yang mengajar di SD YPPK Kenikeh. Bentuk bagunan sekolah yang sederhana dengan fasilitas yang sangat minim sekali, untuk keperluan mengajar saja misalanya membeli kapur atau buku, para guru harus turun ke pantai dengan menempuh jarak berpuluh-puluh kilometer dengan berjalan kaki, namun hal tersebut bukan menjadi halangan bagi para guru untuk tetap mengajar begitupun sebaliknya para murid tetap antusias untuk tetap mendapatkan pendidikan. Setelah tamat dari sekolah ini ada sebagian kecil saja yang melanjutkan pendidikannya di kota tapi sebagian besarnya menetap dan bekerja mengikuti orang tua mereka masing-masing. Tidak bisa dipungkiri bahwa semangat untuk belajar yang dimiliki oleh warga desa ini utamanya generasi muda sangatlah besar namun mereka memiliki keterbatasan karena bantuan dari pemerintah setempat yang hampir tidak ada. Mungkin karena daerah pedalaman yang memiliki jarak yang jauh serta medan yang sulit untuk dilalui sehingga desa ini seakan-akan diabaikan oleh pemerintah, tapi hal ini bukan menjadi alasan karena setiap warga Negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang layak dimanapun mereka berada. Sangat disayangkan jika pemerintah setempat tidak memberikan sumbangsi yang besar terhadap desa ini, karena sekolah ini memiliki murid-murid dengan potensi yang bagus.
            Untuk menuju ke desa kenikeh memang agak sulit karena jalur yang dilewati memiliki medan yang sangat melelahkan, bukan hanya jarak yang sangat jauh melainkan juga harus melalui banyak medan berlumpur dan harus ada sungai yang harus disusuri belum lagi sungai besar yang akan disebrangi. Pendakian ataupun tanjakan yang lumayan menguras energi, merupakan medan yang akan sering juga dijumpai, sehingga banyak memerlukan waktu untuk beristrihat. Waktu yang dibutuhkan untuk menuju desa Kenikeh dari halte Huaulu yang merupakan jalur transportasi terakhir membutuhkan dua hari perjalanan, memang sangat wajar jika memerlukan waktu dua hari melihat medan yang begitu sulitnya untuk dilalui. Menurut kepala adat desa Kenikeh mereka tidak mengharapkan bantuan uang ataupun bantuan logistik dari pemerintah tapi yang mereka harapakan adalah akses transportasi dalam hal ini pembuatan jalan sehingga memudahkan mereka jika ingin ke kota untuk membeli keperluan yang mereka butuhkan dan tidak lagi harus berjalan kaki dengan jarak yang sangat jauh. 

Selasa, 01 Mei 2012

Masjid Wapauwe



















Masjid Wapauwe




Jika bertanya masjid apakah yang tertua di Indonesia? Maka jawabannya adalah Masjid Wapaue di Desa Kaitetu, Maluku Tengah. Masjid ini di bangun pada tahun 1414 M. Selain menjadi masjid tertua, masjid ini juga unik karena material bangunannya semua di ambil dari pohon sagu dan tidak menggunakan paku. Mulai dari atap, dinding, hingga tiangnya semua dari pohon sagu.


Masjid yang berlokasi kecamatan Leihitu kabupaten Maluku Tengah ini masih terlihat asli dan utuh. Masjid ini didirikan pada tahun 1414 Masehi oleh Imam Rijali. Masjid ini terletak di Kaki gunung Wawane dan pertama kali di bangun beratapkan ijuk atau gemutu, dinding terbuat dari rangka kayu dan pelepah rumbiah, penyangga tidak menggunakan paku dan disetiap ujung atap yang berukuran segi empat terdapat ukiran asma Allah SWT dan Muhammad SAW. Pada tahun 1464 Masehi dilakukan perbaikan masjid oleh Imam Is (seorang ulama yang mengembangngkan syiar Islam di Wawane). Pada tahun 1700 masehi pada bagian kubah dipasang tiang berbentuk alif yang terbuat dari kayu Kanjoli. Di masjid ini tersimpan naskah Khutbah Idulfitri serta kitab suci Alquran tertua yang ditulis oleh Nur Cahaya pada tahun 1590 Masehi (seorang murid Imam Rijali), selain itu juga terdapat sebuah kitab berjanji yang menceritakan riwayat Nabi Muhammad SAW, dan juga terdapat sebuah batu serta timbangan kayu untuk menentukan zakat fitrah yang digunakan penduduk asli pada masa itu.

Sumber: 
Direktori masjid Bersejarah
travel.detik.com/aci/readfoto/2011/12/07/162905/1785421/1275/1/masjid-tertua-di-indonesia-dibuat-dari-sagu